Saturday, April 14, 2012

Fiction : Welcome To Our world

Ditulis Oleh Sonia Naghi Jam 10:15 PM

Genre    :  Horror
Rating    :  E
Author   :  Sonia  ^^

        Malam pun tiba. Suasana di sini sangat sepi. Aku baru saja tinggal di rumah ini selama 2 hari. Aku pindah ke daerah yang kurang terkenal. Itu karena pekerjaan ayahku yang seorang dokter. Penyakit mewabah daerah di sini.
        Ramona, tetangga baruku yang umurnya sebaya denganku mengundangku ke rumahnya. Ia juga menyuruhku masuk ke kamarnya.
        "Kate, ada yang ingin aku bicarakan padamu. Sebenarnya rumahmu itu dulunya dimiliki... ", tiba-tiba KREK.... pintu kamar Ramona terbuka. Ternyata ibuku datang mengajakku pulang.
        Saat aku sampai di rumah, aku bertanya kepada ibuku. "Ibu, siapa pemilik rumah ini sebelumnya? Dan apa yang teradi dengannya?"
        "Kau tak perlu tahu, tak masalah kok. Kalau ibu beritahu kamu, nanti bisa jadi masalah.", jawab ibu pelan.
         Aku melihat tatapannya yang aneh, tanpa ekspresi. Mungkin saja ia kelelahan.
        "Bu, sudah sangat malam, aku mau tidur dulu."
         Ibu lalu masuk ke kamarnya. Akupun begitu. Saat aku dikamar, suasana hening. "Tuk...tuk..tuk...", terdengar suara dari luar jendela. Saat kubuka gordennya, Aku melihat Ramona.
        "Hei Ramona, sedang apa kau malam-malam kesini."
        "Psst...Kate, aku ingin melanjutkan ceritaku.", Ia pun masuk ke kamarku melalui jendela.
         Kuberikan ia segelas air. Ia meneguknya sedikit lalu mulai bercerita.
        "Kate, kau harus berhati-hati tinggal di daerah sini. Sangat berbahaya. Dan juga rumah yang kamu tempati saat ini pun begitu. Dulu rumah ini dihuni oleh keluarga kecil. Suati hari, mereka semua di bunuh oleh orang yang tidak diketahui identitasnya. Keluarga itupun dibakar di dalam rumah. Untung saja para warga memadamkan apinya dengan cepat. Jadi hanya sebagian rumah saja yang terbakar. Arwah mereka sering mengganggu pemilik rumah ini yang selanjutnya. Bahkan sampai dibunuh. Dan juga hutan yang disamping komplek perumahan kita ini dulunya tempat pembantaian para budak. Arwah para budakpun sering memanggil orang agar masuk kedalam hutan. Dan orang yang telah masuk itu akan digantung hidup-hidup. Sebenarnya aku tak boleh menceritakan ini. Ini dapat membahayakn diriku. Tapi aku bercerita juga agar kau berhati-hati.",cerita Ramona panjang lebar.
         Ia menghabiskan airnya. Tanpa berkata apa-apa ia meninggalkanku keluar jendela. Aku heran. Apanya yang membahayakan. Aku tenang-tenang saja tinggal di sini, tak ada yang aneh.
                                                *  *  *  *
        Kulihat Ramona berjalan masuk ke dalam hutan. Aku berteriak sekeras-kerasnya untuk melarang Ramona masuk ke dalam hutan. Percuma, dia tidak mendengarku. Sepertinya ia dipengaruhi para budak yang ia ceritakan.Namun semuanya sudah terlambat. Kupejamkan mataku lalu kubuka perlahan. Ku melihat ibuku duduk di sampingku. Jadi tadi itu hanya mimpi.
        "Kate, bangun! Sepertinya kau mimpi buruk. Apakah kau tahu kemana Ramona? Ia tidak pulang dari semalam, ibunya pun bingung.", kata ibuku.
        Saat ibuku bertanya seperti itu aku teringat mimpiku tadi."Aku tahu ia dimana bu, aku melihatnya. Dia ada di dalam hutan!", aku berlari keluar rumah. Ibuku berteriak melarangku ke sana. Katanya terlalu berbahaya. Tapi aku tak menghiraukannya.
        Kulihat hutan yang sangat lebat di depanku. Aku menarik nafas lalu menghembuskannya. Yakinkah aku untuk masuk ke dalam? Sangat meyeramkan. Tapi demi keselamatan Ramona, aku rela.
        Aku masuk semakin dalam, dalam, dan dalam. Aku melihat banyak sekali kerangka tua. Mungkin itu adalah kerangka para budak yang dibantai. Ini sangat menyeramkan. Yang membuatku terkejut adalah AKU MELIHAT RAMONA TERGANTUNG DI POHON. Aku menangis lalu berlari keluar hutan sekencang-kencangnya. Tanpa melihat jalan, kakiku tersandung akar pohon dan kepalaku terbentur batu. Sangat keras. Semuanyapun menjadi gelap.
                                            *  *  *  *

        Saat aku tersadar,kubuka mataku pelan-pelan. Aku sudah berada di kamarku sendiri. "Oh.. ini semua hanya mimpi buruk. Cerita Ramona itu tidak benar. Ia hanya ingin menakutiku saja.", kataku dalam hati. Kulihat jam dinding masih pukul 06.15 pagi.
        "Tuk..tuk..tuk..", aku medengar suara dari luar jendela. Mungkin saja itu Ramona ingin memina maaf karena telah menjahiliku. Kubuka gordennya dan yang kulihat adalah anak kecil dengan kulit melepuh, seperti terbakar. Di samping anak itu, aku melihat laki-laki dewasa. Setengah wajahnya melepuh. Ia membawa pisau karatan. Seperti pembunuh. Aku sangat ketakutan.
        Aku merasa ada yang menyentuh bahuku. Saat melihat ke belakangku, aku sangat terkejut. Astaga!!! Itu tangan puntung! Aku sangat ketakutan. Aku berlari keluar kamar. Namun aku melihat banyak sekali orang dengan penampilan seperti budak. Ia beralan menuju ke arahku. Anehnya ada yang kepalanya terlepas, kakinya hilang dan tangannya hilang. Kulitnyapun terluka parah. Aku berteriak sekeras yang aku bisa. Tak ada yang mendengarku.
        Lalu aku masuk ke dalam kamar dan naik ke atas ranjangku. Aku menarik selimut dan bersembunyi di dalam kehangatannya. Aku terus berdoa agar mereka semua pergi, tidak menggangguku lagi. Saat kulihat, keadaan baik-baik saja. Akupun tertidur.
                                                *  *  *  *

        Aku membuka mataku perlahan. Terdengar suara tangis dari luar kamar. Aku kenal suara itu. itu suara ibu. Aku beranjak dari ranjang dan keluar kamar. Kulihat ada peti mati di ruang tamu. Saat kudekati aku tak percaya. Gadis yang di dalam peti sangat mirip denganku.
        Ayah mendekati ibuku. Aku melihat tatapan ayah yang sangat sedih sedang mencoba untuk menenangkan ibu. "Saya sudah melarang anak kita pergi ke hutan. Tapi ia tidak menghiraukannya. Ia ditemukan oleh warga daerah di sini. Kepalanya terbentur dan pendarahan. Sudah terlambat untuk menyelamatkannya.", cerita ibuku kepada ayah. Wajah ayah semakin sedih. Semakin lama, banyak orang yang datang untuk melayat.
        Tidak, ini tidak mungkin. Ini hanya ilusi. Aku masih hidup dan disini. Tapi mengapa semua orang tidak melihatku. Aku berteriak, tapi percuma. Kucubit lenganku agar terbangun dari mimpi ini, tidak bisa. INI ADALAH NYATA. Jadi saat aku pergi ke dalam hutan dan terbentur batupun juga nyata. Kulihat lagi diriku yang di dalam peti. Kulitku pucat, bibirku biru dan tubuhku dingin.
        Kulihat anak kecil tadi muncul di depanku. Ia tak sendirian. Ada laki-laki dewasa dan para budak. Disamping itu juga ada Ramona. Di sekeliling leher Ramona ada lingkaran berwarna biru. Mereka semua menyeringai ke arahku. Sambil mengulurkan tangannya, anak kecil itu berkata "Welcome to Our World."


                                                 -END-

0 komentar:

Post a Comment

 

Fierce and Wild☺ Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Ugg Boots Sale | web hosting